Rabu, 19 Juni 2013

Surat untuk Ibu Pertiwi
Galih Dwi Hardiyan

Di tengah tanah yang kaya
Di tengah udara yang dihirup
Rakyatku sedang merana
Hanya kar'na mahalnya hidup

Permata biru yang menjajar
Menagungkan nama Tuhan
Rakyatku sedang haus dan lapar
Hanya kar'na BBM yang jadi beban

Inilah surat untuk Ibu Pertiwi
Yang kutulis di secarik kertas ini
Dengan semua jejak anakmu ini
Yang merana di negeri ini

Kita kaya akan pangan
Kita kaya akan alam
Banyak dari kita berpangku tangan
Itulah sedih yang paling dalam
\\
Di tengah penderitaan kini
Wakil kita hanya terdiam
Melihat jeritan anak Ibu Pertiwi
Dan duduk dengan santainya

Inilah surat untuk Ibu Pertiwi
Yang kutulis di secarik kertas ini
Dengan semua jejak anakmu ini
Yang merana di negeri ini


Kamis, 13 Juni 2013

Khianat Cinta Suci
Gailh Dwi Hardiyan


Hitam kelam menyelimutiku
Badai dan topan pun terus bergemuruh
Hati remuk hanya kar’na dirimu
Karena kau selalu menghianati hatiku

Entah harus apa yang ku bisa
Bila kulihat ia berdua
Memadu kasih dan cinta
Merajut cerita cinta mereka

Kasih kau  jangan kembali
Biarkan daku berdiri sendiri
Walau cinta kita tak satu lagi
Entah harus apa, yang bisa kupungkiri
Hanya bisa meratapi ini
Walau kau telah menghianati
Cinta suci ini

Kita telah membuka album kita
Dan kita tutup bersama
Kenangan dan kegembiraan
Biarlah menjadi kelam bersama

Mungkin inilah suratan Tuhan
Mungkinkah ini petunjuk-Nya
Mungkinkah kita harus berpisah
Bahwa tak kan bersatu selamanya

Kasih kau  jangan kembali
Biarkan daku berdiri sendiri
Walau cinta kita tak satu lagi
Entah harus apa, yang bisa kupungkiri
Hanya bisa meratapi ini
Walau kau telah menghianati
Cinta suci ini

Kasih slalu ingat namaku
Panggilah namaku di hatimu
Biar kita tak lagi menyatu
Namun kita dapat bertemu
Kasih kau  jangan kembali
Biarkan daku berdiri sendiri
Walau cinta kita tak satu lagi
Entah harus apa, yang bisa kupungkiri
Hanya bisa meratapi ini
Walau kau telah menghianati

Cinta suci ini
Negaraku
Galih Dwi Hardiyan


Dengan ribuan pulau
Menatap besarnya dunia
Dari ribuan insan manusia
Bersatu untuk berpacu

Dengan tongkat dan batu
Tanaman dapat tumbuh
Dengan anak bangsa
Kita dapat mengubah dunia

Betapa indah negeriku\
Dengan senyuman mentari
yang sembunyi di Kuta
Dengan kekokohan Borobudur
Dengan wajah ramah tamah Yogya

Kita bisa menghias dunia
Dengan senyuman 
Dengan keelokan bangsa
Dan dengan budaya

Negeriku yang kaya
Dengan tanahnya bak permata
Dengan para petani yang berkarya
Demi swasembada pangan bangsa

Negeriku yang sentosa
Dengan berjuta kekayaan alam
Yang diberi Tuhan pada kita
Yang mahal daripada permata

Mari kita berjuang
Untuk menghantarkan kembali 
Auman sang Macan Asia
Dan membuat bangsa berjaya